TRIBUNJATENG.COM YOGYA, - Hingga
sekarang masih saja sering terjadi polemik mengenai fatwa haram dan
halal. Hingga tak jarang kemudian menimbulkan pro dan kontra, baik dari
pihak internal maupun dari pihak eksternal. Fatwa tersebut, sebenarnya
belumlah cukup. Perlu dijelaskan lebih lanjut mengenai kapan, dimana dan
apa konteksnya. Lantaran sesuatu yang haram, belum tentu demikian
halnya jika berada dalam waktu dan konteks yang berbeda. Demikian
seperti yang dipaparkan Emha Ainun Nadjib saat menghadiri acara
peresmian Majelis Ilmu Nahdlatul Muhammadiyyin (NM), di Warungboto,
Umbulharjo, Selasa (09/8) malam.
Penjelasan tersebut menjadi pengantar acara peresmian yang dihadiri ratusan warga masyarakat serta sejumlah pendirinya. Hadir pula Kyai Kanjeng yang pada saat itu mengiri mars Nahdlatul Muhammadiyyin.
Pembentukan forum Majelis Ilmu NM itu dirasa perlu, karena hingga kini masih terdapat tiga masalah besar dalam upayanya memperjuangkan nilai-nilai dan spirit Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Semisal satu diantaranya upaya-upaya pendalaman dan penggalian nilai dan spirit Islam justru selalu berhadapan dengan berbagai cara pendangkalan dan pemadaman atas nilai dan spirit Islam itu sendiri. Bahkan upaya negatif itu tak hanya dilakukan pihak luar saja, melainkan berasal dari umat Islam sendiri.
Demikian juga halnya dengan masalah tekanan dan perubahan yang skala, jenis, kekuatan serta cara menyerangnya sudah jauh berbeda dari kondisi sebelumnya. Maka untuk menjawab perubahan tersebut belum ditemukan metode dan sikap yang tepat dan efektif. Dampaknya, seperti ada
Penjelasan tersebut menjadi pengantar acara peresmian yang dihadiri ratusan warga masyarakat serta sejumlah pendirinya. Hadir pula Kyai Kanjeng yang pada saat itu mengiri mars Nahdlatul Muhammadiyyin.
Pembentukan forum Majelis Ilmu NM itu dirasa perlu, karena hingga kini masih terdapat tiga masalah besar dalam upayanya memperjuangkan nilai-nilai dan spirit Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Semisal satu diantaranya upaya-upaya pendalaman dan penggalian nilai dan spirit Islam justru selalu berhadapan dengan berbagai cara pendangkalan dan pemadaman atas nilai dan spirit Islam itu sendiri. Bahkan upaya negatif itu tak hanya dilakukan pihak luar saja, melainkan berasal dari umat Islam sendiri.
Demikian juga halnya dengan masalah tekanan dan perubahan yang skala, jenis, kekuatan serta cara menyerangnya sudah jauh berbeda dari kondisi sebelumnya. Maka untuk menjawab perubahan tersebut belum ditemukan metode dan sikap yang tepat dan efektif. Dampaknya, seperti ada
Editor : budi_pras
(Sumber/TRIBUNJATENG.COM )
